Benarkah Gaji Pegawai Bank Haram?

0
177

Pertanyaan :

Mohon maaf sebelumnya Tuan Guru, saya mau bertanya. Bagimana hukumnya gaji seorang pegawai bank konvensional seperti BRI, Mandiri, BCA dll. Apakah benar gaji mereka haram karena Bank itu Riba? Apakah ada pandangan atau dalil dari ulama lain yang menghalalkannya gaji mereka?

Terimakasih
– Saparwadi –

Jawaban : 

Wa’alaikum salam wr wb.

Bismillaah walhamdu lillaah wash-sholaatu was-salaam ‘ala Rasulillaah..

Hukum gaji pegawai bank konvensional sangat berkaitan dengan hukum transaksi perbankan itu sendiri, apakah termasuk riba atau bukan.

Para ulama, baik ulama salaf (mazhab empat) maupun ulama kontemporer, semua sepakat akan keharaman riba. Tak ada satupun yang menghalalkan riba. Akan tetapi terhadap bunga bank sebagai permasalahan kontemporer, para ulama berbeda pandangan apakah termasuk riba atau bukan.

Maka sebagian ulama, seperti Yusuf Qaradhawi, Mutawalli Sya’rawi, Abu Zahrah, dan Muhammad al-Ghazali, menyatakan bahwa bunga bank hukumnya haram, karena termasuk riba. Pendapat ini juga merupakan pendapat forum ulama Islam, meliputi: Majma’ al-Fiqh al-Islamy, Majma’ Fiqh Rabithah al-‘Alam al-Islamy, dan Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Namun sebagian ulama kontemporer lainnya, seperti syaikh Ali Jum’ah, Muhammad Abduh, Muhammad Sayyid Thanthawi, Abdul Wahab Khalaf, dan Mahmud Syaltut, menegaskan bahwa bunga bank hukumnya boleh dan tidak termasuk riba. Pendapat ini dipilih oleh Majma’ al-Buhus al-Islamiyyah tanggal 23 Ramadhan 1423 H, bertepatan tanggal 28 November 2002 M.
Di dalam fatwa Majma’ al-Buhus al-Islamiyyah disebutkan:

إِنَّ اسْتِثْمَارَ الْأَمْوَالِ لَدَى الْبُنُوْكِ الَّتِيْ تُحَدِّدُ الرِّبْحَ أَوِ العَائِدَ مُقَدَّمًا حَلَالٌ شَرْعًا وَلَا بَأْسَ بِهِ

“Sesungguhnya menginvestasikan harta di bank-bank yang menentukan keuntungan atau bunga di depan hukumnya halal menurut syariat, dan tidak apa-apa”. (Lihat: Ali Ahmad Mar’i, Buhus fi Fiqhil Mu’amalat, Kairo: Al-Azhar Press, halaman 134-158).

Pada Munas ‘Alim Ulama NU di Bandar Lampung tahun 1992, terdapat tiga pendapat tentang hukum bunga bank: Pertama, pendapat yang mempersamakan antara bunga bank dengan riba secara mutlak, sehingga hukumnya adalah haram. Kedua, pendapat yang tidak mempersamakan bunga bank dengan riba, sehingga hukumnya adalah boleh. Ketiga, pendapat yang mengatakan bunga bank hukumya syubhat. Meski begitu, Munas memandang perlu untuk mencari jalan keluar menentukan sistem perbankan yang sesuai dengan hukum Islam.

Dari paparan di atas, dapat dipahami bahwa hukum bunga bank merupakan masalah khilafiyah. Ada ulama yang mengharamkannya karena termasuk riba, dan ada ulama yang membolehkannya, karena tidak menganggapnya sebagai riba.

Terhadap masalah khilafiyah seperti ini, prinsip saling toleransi dan saling menghormati harus dikedepankan. Sebab, masing-masing kelompok ulama telah mencurahkan tenaga dalam berijtihad menemukan hukum masalah tersebut, dan pada akhirnya pendapat mereka tetap berbeda.

Karenanya, seorang Muslim diberi kebebasan untuk memilih pendapat sesuai dengan kemantapan hatinya. Jika hatinya mantap mengatakan bunga bank itu boleh maka ia bisa mengikuti pendapat ulama yang membolehkannya. Sedangkan jika hatinya ragu-ragu, ia bisa mengikuti pendapat ulama yang mengharamkannya.
Dan tentu saja kehati-hatian tetaplah harus dikedepankan semampu kita.
Wallahu A’lam.

Tanya Tuan Guru (TTG)

Diasuh oleh TGH. Esrar Al Haque, Lc. M. Hi, seorang ulama muda progresif lulusan Madrasah Shalatiyah Makkah dan saat ini sebagai Pimpinan Pondok Pesantren Al Hasanain NU Beraim.Silakan kirim pertanyaan anda melalui WA/LINE di HP. 081907238666 / 082339993330 atau email ke admin@pwnuntb.or.id

Tinggalkan Balasan