Di Konferensi MWCNU Pujut, Tokoh-Tokoh NU Ajak Bentengi Generasi NU Dari Ekstrimisme

0
77

Praya, pwnuntb.or.id | Tantangan Islam bukan saja datang dari luar islam, melainkan juga datang dari dalam. Hal ini dapat dilihat dari munculnya kembali sekelompok ummat Islam yang memahami islam dengan sangat rigit, sedikit-sedikit haram, mudah menyalahkan orang lain bahkan menganggap yang pemahaman berbeda dengan mereka langsung di cap kafir.

Hal tersebut disampaikan Wakil Syuriah PWNU NTB TGH. Lalu Sohimun Faisal, MA saat Konferensi Majelis Wakil Cabang (MWC) Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Pujut, Senin (19/8) hari ini di Pondok Pesantren Nurussalam Ketare Pujut Lombok Tengah.

Maraknya pemahaman demikian tambahnya, mengingatkan ummat islam pada peristiwa memilukan terbunuhnya Sayyidina Ali bin Thalib oleh seseorang bernama Ibnu Muljam.

Ibnu Muljam adalah seorang muslim yang rigit dan sebelumnya adalah pengikut setia sayyidina Ali. Hanya saja dalam prosesnya, Ibnu Muljam menjadi anti sayyidina Ali pasca terjadinya perang siffin antara Khalifah Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah pada tahun 37 H/ 648 M.

“Ibnu Muljam menganggap Sayyidina Ali Kafir, sehingga boleh dibunuh, pemahaman seperti ini sekarang bertebaran di Indonesia dan sangat berbahaya bagi NKRI dan Pancasila” Jelas Sohimun.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua PCNU Lombok Tengah, H. L. Pathul Bahri, SP menyampaikan, munculnya pemahaman-pemahaman ekstrim terutama dikalangan muda disebabkan oleh pengaruh kuat Media Sosial dan Internet.

Dikatakan Pathul, pesatnya perkembangan tekhnologi membuat semua manusia sudah tersambung dengan internet, sehingga pola menyerap informasi berlangsung tanpa filter dan tanpa guru.

“Di medsos ini orang tidak hanya berkomunikasi saja, tetapi disitu tempatnya mereka mengaji, mencari tau soal-soal agama. Mereka sudah meninggalkan Tuan Guru-Tuan Guru dan lebih mendengar Medsos” Ungkapnya.

Menurutnya, hal seperti ini sangat berbahaya bagi generasi muda karena meninggalkan tradisi menuntut ilmu secara langsung kepada guru-guru yang kompeten dalam soal agama.

“Ini sangat berbahaya, tradisi berguru dan mengaji secara langsung ini adalah tradisi Aswaja, Tradisi Nahdlatul Ulama, jangan dihilangkan. Karena disana ada yang sebut dengan kebarokahan” Tambah Pathul yang juga sebagai Wakil Bupati Lombok Tengah ini.

Dalam Konferensi MWCNU Pujut ini, terpilih sebagai TGH. Lalu Abdul Hafidz sebagai Syuriyah dan TGH. Lalu Abusshulhi Khairi Al-Misbahiy terpilih sebagai Ketua Tandfidziyah. [Pahrur Rozi]

Tinggalkan Balasan