Gandeng Hanns Seidel Foundation Indonesia, Muslimat NU Adakan PKP2D

0
73
Pengurus PP Muslimat NU, Pengurus Wilayah NU NTB, dan Peserta PKP2D

Mataram, 25/02/19: Pengurus Pusat Muslimat NU, mengadakan kerjasama dengan Hanns Seidel Foundation Indonesia, dalam kegiatan Pelatihan Kader Perempuan Penggerak Desa, pada Senin, 25 Februari 2019 di Hotel Lombok Raya Kota Mataram.

Kegiatan ini di inisiasi oleh Pengurus Pusat Muslimat NU, sebagai program demokrasi desa, dan pemberdayaan sumber daya perempuan.

Kegiatan ini, akan dilaksanakan selama 3 hari yakni dari tanggal 25-28 Februari 2019. Dengan peserta dari masing-masing perwakilan cabang Muslimat NU di Nusa Tenggara Barat.

Acara pembukaan yang berlangsung (25/02/2019) di Hotel Lombok Raya, dihadiri oleh Pengurus Pusat Muslimat NU, Wakil Ketua Ny. Hj. Nurhayati Said Aqil Siradj, serta pengurus lainnya mewakili PP Muslimat NU, dan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Provinsi NTB, Ketua Tanfidziah Prof. Dr. TGH. Masnun Tahir,M.Ag, serta jajarannya.

Dalam sambutan Ketua Tanfidziah NU NTB Prof. Dr. TGH. Masnun Tahir, menjelaskan bahwa harapan dengan terlaksananya kegiatan PKP2D ini, dapat memberikan kontribusi real terhadap semangat kader-kader Muslimat NU untuk tetap eksis dan berkarya. Mulsimat NU tidak seharusnya selalu di bawah, namun harus bisa mendapatkan posisi yang lebih tinggi.

“Muslimat harus tetap eksis dan terus berkarya, hingga mendapatkan posisi yang lebih tinggi!” Ungkapnya.

Sedangkan Wakil Ketua PP Muslimat NU, Ny. Hj. Nurhayati Said Aqil Siradj, menerangkan bahwa kegiatan ini sebagai bentuk perhatian Muslimat NU terhadap kondisi perempuan hari ini. Terlebih perempuan yang ada di Desa. Disamping itu juga ia menerangkan bahwa kegiatan Pelatihan Kader Perempuan Penggerak Desa ini sebagai antisipasi terhadap potensi yang harus dilatih untuk perempuan yang menjadi TKW ke luar negeri. Supaya tidak terjadinya kekerasan terhadap TKW oleh majikan di luar negeri.

“Pelatihan ini juga sebagai bekal kader Muslimat NU yang ada di Desa, untuk memberikan pandangan dan pelatihan terhadap perempuan-perempuan yang ada di pedesaan, supaya tidak ada lagi kita dengar adanya TKW yang di aniaya lantaran tidak bisa buat masakan kesukaan majikan atau tidak faham bahasa majikannya! Imbuhnya.”

“Warga perempuan desa, atau yang ingin jadi TKW, namun pendidikan rendah, itu perlu diberikan pembinaan. Contoh kalau di timur tengah harus bisa bahasa Arab, kalau ke Thailand harus pakai bahasa Mandarin, dll! Tutupnya.”

Pelatihan Kader Perempuan Penggerak Desa, diharapkan dapat menjadi perpanjangan tangan Muslimat NU, untuk memberikan pelatihan keterampilan terhadap perempuan yang ada di pedesaan, yang memiliki kualitas pendidikan rendah.

Tinggalkan Balasan