Ikat Makna #NgajiLTNNULoteng (1)

0
22

Praya, Lombok Tengah | Lembaga Ta’lif Wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN NU) Lombok Tengah Sabtu, (17/8) kemarin menyelenggakan Ngaji Rutin dengan Tema “Mewarisi Tradisi Menulis Para Ulama” bertempat di Aula Kantor PCNU Lombok Tengah Jl. WR. Supratman No. 6 Praya.

Diacara ngaji Rutinan ini, LTN NU Loteng mengundang dua orang Narasumber yakni TGH. Asrorul Haq, LC, MHI dan Sueb Qurry Ketua LTN NU NTB.

Dalam penyampaiannya, TGH. Asrorul Haq, LC, MHI mengatakan, tradisi tulis-menulis adalah warisan para ulama sejak zaman sahabat. Kegiatan ini bahkan telah dimulai oleh para sahabat ketika melakukan kodifikasi (penulisan) terhadap Al Quran dan Hadist. Berlanjut ke generasi tabi’in dan tabi’it tabi’in, kegiatan tulis menulis dilakukan pada cabang-cabang ilmu syariah lain seperti Tafsir, Fiqh, Hadist, Aqidah, Akhlaq dan Tasawuf. Kemudian berkembang penulisan ke ilmu-ilmu yang tidak berkaitan langsung dengan agama seperti filsafat, matematika, kimia, astronomi dan kedokteran.

Tuan Guru lulusan Madrasah Shalatiyah Makkah menyebut, produktifitas para tabi’in dan ulama mengalami puncak kejayaannya ketika khalifah al ma’mun mendirikan Baitul Hikmah. Sebuan lembaga yang didedikasikan kerajaan untuk mengumpulkan para sarjana dan penulis dan melakukan penulisan.

“Saya pernah baca, ada 262 Juta manuskrip karya para ulama salafussholeh tersebut yang hingga saat ini belum dibukukan dan dipublikasikan,” Ungkapnya.

TGH. Asror menambahkan, produktifitas para ulama tersebut sangat erat kaitannya dengan aktifitas keilmuan yang mereka lakukan serta dukungan negara dalam mengembangkan ilmu pengetahuan seperti Baitul Hikmah.

“Ya kalo di Lombok Tengah ini, Baitul Hikmahnya kita harapkan LTN NU” Ujarnya.

Lebih dulu mana, Membaca Atau Menulis?

Dikatakan TGH. Asror, ayat Al Qur’an yang pertama kali turun sebetulnya tidak hanya memerintahkan Iqro’ (Bacalah!) Tetapi juga ayat itu secara tersirat memerintahkan untuk menulis.

Dikatakannya, kalimat “Iqro’ bismi robbika alladzi khalaq, khalaqal insana min alaq, iqro’ warabbuka al akram, alladziy allama bil qolam” adalah satu rangkaiam yang menjelaskan pentingnya keduanya.

Kata Bil Qolam, sepintas bukan perintah, tetapi sesungguhnya ia ada sebelum perintah Iqro’ dikalimat sebelumnya.

Karena itu, dalam ilmu Nahwu ada yang disebut dengan kalimat yang mahdzuf atau dibuang atau diersembunyikan yakni lata Al Qolam yang bermakna sebelum membaca ada perintah menulis.

“Allah tak hanya memerintahkan membaca dalam ayat ini, tersirat disitu ada kata yang di mahdzuf yakni Al Qolam, sebagai simbolisasi aktifitas tulis-menulis. Dan secara logika tak mungkin bisa membaca jika tidak ada yang menulis, ini artinya menulislah aktifitas yang pertama baru membaca” ungkapnya.

#IkatMaknaNgajiLTN (Bersambung..)

Tinggalkan Balasan