IKSASS, Kembalilah ke Pangkuan Nahdlatul Ulama!

0
294

Hubungan Ponpes Salafiyah-Syafi’iyah Sukorejo Situbondo dengan PBNU seperti hubungan orang pacaran. Mencintai sepenuh hati, tapi terkadang harus menghadirkan bumbu yang membuatnya semakin sedap dipandang dan dirasakan.

Dulu saat Gusdur sebagai ketua PBNU, Kiai As’ad sempat tidak sepakat dengan cara-cara Gusdur membawa NU yang akhirnya Kiai As’ad menyatakan diri Mufaraqah.

Diceritakan Kiai Muhyiddin Khotib saat Munas-Konbes NU 2017 di Lombok NTB, Mufaraqahnya Kiai As’ad dari PBNU sempat membuat warga Nahdliyyin kebingungan ikut siapa. Bahkan tidak sedikit, warga Nahdliyin yang menyerahkan kartu NU-nya ke Kiai As’ad dengan niat mengikuti sikap mufaraqah Kiai As’ad. Namun kiai As’ad ternyata marah sambil dawuh, “Kalian jangan ikut saya. Mufaraqah itu hanya untuk makmum yang tau batalnya imam, kalau makmum yang lain tidak tahu, jangan ikut-ikutan.”

Dimasa Kiai Azaim kini, kita mendapati hal serupa beliau. Cucu Kiai As’ad tersebut juga pernah menyatakan Mufaraqah dari PBNU pada 21 September 2015, persis beberapa pekan setelah Muktamar ke 33 di Jombang dilaksanakan.

Menurut penuturan Ust. Amiruddin, salah seorang Alumni Ponpes Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo. Perihal Mufaraqahnya Kiai Azaim ini sempat ditabayyun langsung ke Kiai Azaim oleh TGH. Soleh Tsalis di Lopan, Ketak Kopang saat Kiai Azaim Ziarah ke Maqam Datok Ketak.

Saat itu Kiai Azaim cerita bahwa, pasca Muktamar 33 Jombang, oleh Pengurus Wilayah NU Jawa Timur, Kiai Azaim diminta untuk duduk di struktur pengurus PWNU Jawa Timur. Namun setelah beliau Shalat Istokharah, Kiai As’ad mendatanginya dan memintanya menunggu 2-3 Tahun baru bergabung kembali.

Salah seorang santri Ma’had Aly Sukorejo, Ustadz Doni Saputra juga menjelaskan hal yang sama. Sewaktu Kiai Azaim menyatakan mufaraqah dengan PBNU hasil Muktamar 33 Jombang, ia yang bertindak sebagai Notulen saat itu mendengar langsung alasan Kiai Azaim Mufaraqah.

“Berdasarkan petunjuk bakdu shalihin yang meminta Kiai Aza’im menunggu sampe dua tahun” Cerita Ustad Doni.

Ustad Doni menambahkan, Nampaknya petunjuk tersebut benar, setelah dua tahun, pribadi kiai Said sudah tidak se-kontroversial sebelum-sebelumnya. Dan persis seperti sikap Mufaraqah Kiai As’ad Ke Gusdur, Kiai Azaim juga tidak pernah memerintahkan semua alumni untuk keluar dari NU. Bahkan Kiai Azaim menegaskan agar Alumni yang sudah jadi pengurus di Struktur NU agar tetap di NU dan memperbaiki NU dari dalam.

Bahkan fakta yang sangat mengejutkan, Kiai Azaim ternyata berkenan menghadiri undangan PBNU ketika Munas dan Konbes 2017 di Lombok, walaupun alasan kedatangan beliau ingin bertemu dengan KH. Makruf Amin.

Alumni Situbondo, Mari Bersatu Besarkan NU

Sudah bukan rahasia lagi, jika sebagian Alumni Pondok Pesantren Salafiyah-Syafi’iyah di NTB terlihat enggan membesarkan Nahdlatul Ulama bahkan ada yang sangat kontra dengan Nahdlatul Ulama. Minimal ini yang saya rasakan di Lombok Tengah saat ini.

Teman-teman alumni yang tergabung dalam Ikatan Santri dan Alumni Pondok Pesantren Salafiyah-Syafi’iyah (IKSASS) Kabupaten Lombok Tengah, tidak satu dua kali saya mendengar, beberapa individu bersikap negatif terhadap NU. Bahkan yang sangat memalukan dan memilukan, ada juga alumni yang hingga (Maaf!) Menghujat NU dan Kiai-Kiai NU di Media sosial.

Saya sebagai alumni, terus terang merasa sedih dan khawatir. Jangan sampai hal ini keterusan menjadikan kita semua tidak mendapatkan keberkahan hidup karena antipati terhadap NU. Terlebih jika mengingat butir pertama dari wasiat KH. As’ad Syamsul Arifin yang berbunyi “Santri Sukorejo yang keluar dari NU, jangan berharap berkumpul dengan saya di akhirat”.

Dus, saya mengingatkan kepada sahabat-sahabat di IKSASS agar membenahi diri. Tidak mengapa kita berbeda, tetapi sesama santri mari kita saling jaga dan ingatkan. Menterjemahkan sikap Mufaraqah Kiai Aza’im bukan tingkatan kita.

Saya ingin mengutip cerita rombongan Kepala Sekolah SLTP dan SLTA Ma’arif Kotamadya Surabaya yang pada 15 April 1987 menghadap Kiai As’ad ingin Sowan dan menanyakan sikap Mufaraqah beliau kepada Gusdur. Sesampai di ndalem, rombongan diterima langsung oleh KHR As’ad yang kala itu didampingi KH Mudjib Ridwan. Rombongan pun mendapat penjelasan langsung bahwa beliau mufaraqah dengan Gus Dur karena Gus Dur kiai ketoprak.

Dari Situbondo, rombongan meneruskan silaturahim berikutnya ke Jember ke ndalem KH Ahmad Shiddiq. Di hadapan Rais ‘Aam PBNU ini, disampaikanlah panjang lebar kebingungan-kebingungan mereka mengenai hubungan KHR As’ad dengan Gus Dur.

Dan beginilah dawuh KH Ahmad Shiddiq. “Kulo, dan sampean-sampean semua—seraya menunjuk satu persatu rombongan yang hadir—bukan levelnya. Bukan kelasnya menilai Kiai Haji Raden As’ad Syamsul Arifin.” (NU Online)

Demikianlah, tidak pantas kita-kita sebagai santri menilai sikap Mufaraqahnya Kiai Aza’im saat ini lalu ikut-ikutan mufaraqah dari PBNU. Beliau dengan Kiai Said Agil Sirodj bukan level kita. Mari kita bersatu sebagai santri Kiai As’ad, Santri NU, Santri Ahlussunnah Wal Jama’ah An Nahdliyyah, yang Amaliyah, Fiqrohnya dan Haraqahnya semuanya Nahdliyyah. Sehingga dalam peran masing-masing di masayarakat kita tak abu-abu, antara NU dan Bukan NU.

Wallahul Muwafiq Ila Aqwamit Thaariq

PENULIS :
AHMAD JUMAILI, S. Pd.I
(Alumni Salafiyah-Syafi’iyah Sukorejo Situbondo dan Ketua LTN NU PCNU Lombok Tengah)

Tinggalkan Balasan