Ketua LTN NU Loteng Usulkan, OSIS dilebur jadi IPNU-IPPNU

0
58

Praya, pwnuntb.or.id | Ketua Lembaga Ta’lif Wan Nasyr (LTN) Nahdlatul Ulama Lombok Tengah Ahmad Jumaili, S. Pd.I mengusulkan kepada Pengurus Wilayah Lembaga Pendidikan Alma’arif NU NTB agar mengikuti langkah PWNU Jawa Timur yang menginstruksikan mengganti nama OSIS di sekolah-sekolah Ma’arif NU Menjadi Komisariat IPNU dan Komisariat IPPNU.

Dikatakan Jumaili, keberadaan OSIS di sekolah dan madrasah dibawah LP Al Ma’arif telah menjadikan organisasi kesiswaan mengalami dualisme, maka seharusnya dileburkan menjadi satu organisasi saja.

“OSIS dan IPNU-IPPNU itu sama-sama organisasi siswa yang kegiatannya juga mirip-mirip seperti PLS, Pelaksaan Hari Besar Islam, Event Olahraga, Imtak dan lain-lain” ungkapnya.

Perbedaan keduanya, IPNU-IPPNU hanya kebijakan organisasi Internal NU sementara OSIS diatur langsung oleh Pemerintah melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nomor 39 Tahun 2008 tentang Pembinaan Kesiswaan.

Perbedaan ini membuat organisasi IPNU – IPPNU kurang berdaya dihadapan OSIS karena sekolah / madrasah seakan memposisikannya sebagai organisasi kelas dua dan terikat aturan tidak bisa dialokasikan pendanaan dari dana BOS.

Maka peleburan ini sangat penting supaya pemerintah merubah kebijakannya yakni, khusus di sekolah dan madrasah dibawah Al Ma’arif, OSIS diganti menjadi IPNU-IPPNU sehingga mendapat perlakuan yang sama.

Bentengi Siswa Dari Radikalisme

Pergantian OSIS menjadi IPNU-IPPNU ini juga menurut Jumaili adalah langkah yang sangat tepat untuk membentengi para siswa agar tidak terpapar radikalisme dan pemahaman Wahabi sejak di sekolah.

“Di OSIS ada yang mereka sebut Rohis, awalnya Rohis ini bagus, menjadi tempat mereka belajar pidato, belajar kajian-kajian keagamaan, tapi lambat laun, rohis ini melembaga menjadi organisasi yang terpisah dan membuat kegiatan-kegiatan sendiri yang tak terkontrol” Terangnya.

Bahkan, jelas laki-laki yang juga pengurus Ponpes Sirajul Huda ini,  diluar sekolah, Rohis ini ternyata punya komunitas online dan offline yang dicurigai telah dikuasai wahabi.

Sehingga, walaupun mereka bersekolah di Al Ma’arif, para siswa tetap berinteraksi dengan kelompok radikal dari luar sekolah, dari sana mereka mendapatkan video dan tulisan dari tokoh-tokoh yang selama ini bertentangan dengan Ahlussunnah Wal Jama’ah.

Tinggalkan Balasan