LP Ma’arif Apresiasi Pembatasan Gawai di Sekolah

0
24

PWNUNTB.OR.D | Jakarta – Rencana pembatasan penggunaan gawai bagi siswa di lingkungan sekolah disebuat Ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif NU, Arifin Junaidi sebagai ‘langkah tepat’ untuk melindungi peserta didik dari dampak buruk penggunaan gawai.

Ia juga mengatakan bahwa aturan semacam ini telah lama diberlakukan di lingungan sekolah LP Ma’arif NU. Kebijakan ini, lanjutnya, tidak hanya berhasil melindungi peserta didik dari bahaya gadget, namun juga membuat peserta didik menjadi tidak menggantungkan pengetahuannya pada ‘alat’.

“Kami manyambut gembira. Ini sudah dilakukan di sekolah Ma’arif, sebab kami melihat banyak mudharatnya, timbang manfaatnya,” ujar Arifin Junaidi kepada NU Online, Senin (3/9).

Ia menyontohkan, beberapa sekolah di lingkungan Ma’arif NU yang secara total melarang pengunaan gadget di lingkungan sekolah, terbukti lebih kreatif dari pada sekolah yang masih memberikan kesempatan siswanya di waktu tertentu.

Arifin yakin, aturan ini akan membawa dampak positif bagi perkembangan siswa di lingkungan sekolah di tanah air. “Karena pada dasarnya gadget banyak mengandung gangguan untuk proses belajar-mengajar, yang dapat menyebabkan kecerdasan otak, emosional dan kreativitas siswa menurun,” terangnya.

Sebelumnya, empat kementerian mengeluarkan surat edaran bersama tentang pembatasan gawai dalam satuan pendidikan. Keempat kementerian itu adalah Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kementerian Agama.

“Hal ini dilakukan untuk mencegah anak-anak kita mendapatkan infomasi yang tidak layak, seperti pornografi, radikalisme, kekerasan, hoaks, SARA dan lainnya. Serta agar anak-anak kita terhindar dari kecanduan gawai dan efek negatif dari penggunaan gawai,” kata Menteri Yohana.

Berdasarkan data dari Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak Kemen PPPA tahun 2016, sebanyak 70 persen siswa sekolah membawa gawainya ke sekolah. Sebanyak 61 persen di antaranya menggunakan gawai untuk keperluan chatting dan bermain game. 29 persen dari siswa tersebut menggunakan awai untuk mencari informasi terkait mata pelajaran dan 10 persen yang menggunakannya untuk keperluan komunikasi dengan orang tua atau teman.

Durasi penggunaan gawai pada anakjuga menarik. Sebanyak 60 persen anak menggunakan gawai selama lebih dari tiga jam, 25 persen menggunakan gawai selama satu hingga dua jam dan 15 persen yang menghabiskan waktu kurang dari satu jam. (AhmRencana pembatasan penggunaan gawai bagi siswa di lingkungan sekolah disebuat Ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif NU, Arifin Junaidi sebagai ‘langkah tepat’ untuk melindungi peserta didik dari dampak buruk penggunaan gawai. Ia juga mengatakan bahwa aturan semacam ini telah lama diberlakukan di lingungan sekolah LP Ma’arif NU. Kebijakan ini, lanjutnya, tidak hanya berhasil melindungi peserta didik dari bahaya gadget, namun juga membuat peserta didik menjadi tidak menggantungkan pengetahuannya pada ‘alat’. “Kami manyambut gembira. Ini sudah dilakukan di sekolah Ma’arif, sebab kami melihat banyak mudharatnya, timbang manfaatnya,” ujar Arifin Junaidi kepada NU Online, Senin (3/9). Ia menyontohkan, beberapa sekolah di lingkungan Ma’arif NU yang secara total melarang pengunaan gadget di lingkungan sekolah, terbukti lebih kreatif dari pada sekolah yang masih memberikan kesempatan siswanya di waktu tertentu. Arifin yakin, aturan ini akan membawa dampak positif bagi perkembangan siswa di lingkungan sekolah di tanah air. “Karena pada dasarnya gadget banyak mengandung gangguan untuk proses belajar-mengajar, yang dapat menyebabkan kecerdasan otak, emosional dan kreativitas siswa menurun,” terangnya. Sebelumnya, empat kementerian mengeluarkan surat edaran bersama tentang pembatasan gawai dalam satuan pendidikan. Keempat kementerian itu adalah Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kementerian Agama. “Hal ini dilakukan untuk mencegah anak-anak kita mendapatkan infomasi yang tidak layak, seperti pornografi, radikalisme, kekerasan, hoaks, SARA dan lainnya. Serta agar anak-anak kita terhindar dari kecanduan gawai dan efek negatif dari penggunaan gawai,” kata Menteri Yohana. Berdasarkan data dari Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak Kemen PPPA tahun 2016, sebanyak 70 persen siswa sekolah membawa gawainya ke sekolah. Sebanyak 61 persen di antaranya menggunakan gawai untuk keperluan chatting dan bermain game. 29 persen dari siswa tersebut menggunakan awai untuk mencari informasi terkait mata pelajaran dan 10 persen yang menggunakannya untuk keperluan komunikasi dengan orang tua atau teman. Durasi penggunaan gawai pada anakjuga menarik. Sebanyak 60 persen anak menggunakan gawai selama lebih dari tiga jam, 25 persen menggunakan gawai selama satu hingga dua jam dan 15 persen yang menghabiskan waktu kurang dari satu jam. (Ahmad Rozali)ad Rozali)

SUMBER : nu.or.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here