Nusron Wahid sampaikan Dua Pesan Penting Mbah KH. Maimoen Zubair Menjelang Wafat

0
73

Pekalongan, pwnuntb.or.id | Mantan Ketua Gerakan Pemuda (GP) Ansor Pusat Nusron Wahid mengadakan Dzikir dan Tahlilan atas wafatnya KH. Maimoen Zubair di Kediaman Buya Habib Luthfy di Pekalongan, Senin (12/8) malam.

Dalam kesempatan tersebut, Nusron Wahid menyampaikan, sehari sebelum Kiai Maimoen berangkat ke Makkah, ia bertemu untuk menghadap Kiai Maimoen di Hotel Dharmawangsa Jakarta dan dibisiki 7 pesan penting.

“Saya hanya akan sampaikan 2 saja, karena 5 pesan lainnya akan saya sampaikan diwaktu yang tepat” Ungkapya.

Dua pesan yang disampaikan Kiai Maomoen Zubair kepada Nusron adalah, Pertama, generasi muda Nahdlatul Ulama, jangan mau diadu domba dengan Ahlul Bait atau habaib-habaib yang selama ini dicap sebagai syi’ah.

“Sembari menangis beliau berpesan ke saya, kita para aktifis NU dan generasi muda NU, jangan mau di adu domba dengan para habaib atau Ahlul Bait yang selama ini di isukan atau dicap Syiah. Karena Nahdlatul Ulama adalah Ahlul Bayt dan Ahlul Bayt adalah Nahdlatul Ulama” Ucap Nusron.

Pesan Kiai Maimoen yang kedua kata Nusron, NU harus menjadi penjaga nasionalisme ditengah pertentangan-pertentangan ideologi yang ada. Nu harus tetap menjadi Nasionalis sebab fase kebangkitan Islam berikutnya tempatnya di Indonesia.

Kiai Maimoen menyitir Surrah Alfath Ayat 29 dan mengutip penafsiran Sayyid Abdurrahman Al Buthy yang menjelaskan, bahwa Islam akan mengalami 7 Fase kebangkitan.

Fase Islam yang pertama ditunjukka
Oleh kalimat “Muhammadun Rasulullah” yakni Fase ketika Nabi Muhammad diutus ke dunia ini dan berhasil membangun peradaban Islam terutama di Makkah dan Madinah. Kemudian kalimat Walladzina Ma’ahu adalah fase kedua adalah Fase Islam dimasa Khulafaurrasyidin yang empat yakni Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali.

Berlanjut ke fase yang ketiga, dengan kalimat Asyidaa’u Alal Kuffar yakni Fase pemerintahan Bani Ummayyah dan keempat Ruhama’u Bainahum yakni fase pemerintahan Bani Abbasiyah.

Adapun fase Islam yang kelima ditunjukkan dengan kalimat “Tarahum rukka’an sujjada..” yakni fase ketika tokoh-tokoh sufi dan intelektual dalam islam mengalami kemajuan pesat, yakni masanya Ibn Rusyd, Ibnu sina dan lain-lain.

Simaahum min atsaris sujud adalah faze pemerintahan Khalifah Turki Ustmani.

“Min Atsaris sujuud kata mbah Maimoen adalah karena orang turki hobinya membangun masjid” Jelas Nusron. Dan fase yang terakhir ditunjukka dengan kalimat “Kadzar’in akhraja Syat Ahu ….” yakni fase Islam yang akan berlangsung disebuah negara penghasil biji-bijian, bukan negara islam tapi mayoritaz islam yakni Indonesia.

“Fase puncak Islam di Indonesia inilah yang menjadi alasan beliau (Kiai Maimoen) berpesan agar NU harus nasionalis, dan Indonesia harus religous ala NU” Jelas Nusron. (AJ)

Tinggalkan Balasan