Pembentukan Karakter Santri

0
92
Pembentukan-Karakter-Santri
PWNUNTB.OR.ID-Jember. Bila hari-hari ini pembaca datang ke Pondok Pesantren Nurul Islam (Nuris), Kelurahan Antirogo, Kecamatan Sumbersari, Jember, Jawa Timur, maka akan dijumpai para santri dengan seragam putih-hitam tengah mengikuti bimbingan  di masjid dan halaman. Itulah kegiatan Mabisa (Masa Bimbingan Santri). Kegiatan dikhususkan bagi pembentukan karakter santri baru sebagai pengenalan lingkungan sekaligus bimbingan.
Pembentukan Karakter Santri baru (putra dan puri) Nuris di tahun ajaran baru  ini mencapai seribu orang lebih. Untuk santri putra, Mabisa digelar di Masjid Baitunnur. Sedangkan Mabisa untuk santri putri  dilangsungkan di mushalla dan halaman dalem timur.
Mabisa digelar usai shalat Isya’ sejak 27 Juni lalu dan akan berlangsung hingga dua bulan ke depan. Menurut pengasuh Pondok Pesantren Nuris, Gus Robith Qashidi, Mabisa biasanya digelar tiga hari hingga satu pekan.  Tapi tahun ini diperpanjang hingga  dua bulan. Ini mengingat begitu banyak materi dan bimbingan yang harus diberikan.
“Kami menekankan pembentukan karakter bagi santri baru. Mininal di seratus hari pertama menjadi santri, fondasi bangunan karakter itu sudah terbangun,” katanya kepada NU Online di sela-sela Mabisa, Jumat (6/7).
Alumni Universtias Al Azhar, Kairo, Mesir itu menambahkan bahwa fokus utama Mabisa adalah pembinaan akhlak dan peningkatan  kualitas ibadah. Dua hal ini teramat penting bagi pembentukan karakter santri dan siapa pun, karena merupakan kunci keberhasilan dalam mengarungi hidup.
Untuk itu, dalam Mabisa tersebut santri baru diberi pendalaman materi. “Salah satunya adalah materi akhlak berbasis kitab kuning, yaitu Tarbiyatush  Shibyan,” katanya. Kitab ini menggunakan nadzam berbahasa Arab dan bahasa Indonesia, sehingga mudah dicerna dan dihafalkan, lanjutnya.
“Isinya bagaimana cara kita  menghormati orang tua, menghormati guru dan sebagainya. Dan ini perlu terus menerus ditanamkan karena bagian dari upaya mencari keberkahan ilmu,” terang Gus Robith, sapaan akrabnya.
Gus Robith lalu menyitir sebagian syair kitab tersebut. Di antaranya adalah “kalau dipanggil, cepatlah menghadapnya. Patuh perintah, hindari larangannya. Kalau bisa jangan lewat di depannya kecuali karena melayaninya”.
“Itu syair yang indah bagaimana kita harus bertatakrama kepada orang tua untuk pembentukan karakter santri,” tandasnya. (Aryudi Abdul Razaq/Ibnu Nawawi)
Sumber: NU Online

Tinggalkan Balasan