Prof. Dr. H. Amin Abdullah, M.A. Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Isi Studium General Pascasarjana UIN Mataram.

0
54

pwnuntb.or.id || Agenda yang berlangsung di Aula NU Nusa Tenggara Barat. 7/9/2019
Kegiatan Studium General yang dihadiri oleh beberapa kalangan pejabat Rektor UIN Mataram Prof. Dr . H. Mutawalli, M.Ag, Wakil Rektor 1 Prof. Dr. H. Masnun, M.Ag., Direktur Pascasarjana UIN Mataram Prof. Dr. Suprapto, M.Ag., kalangan dosen, dan mahasiswa Pascasarjana UIN Mataram.
Prof. Dr. H. Amin Abdullah, M.A. Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sebagai narasumber dalam agenda tersebut, dengan menjelaskan tema terkait “Memperkuat Paradigma Integrasi-interkoneksi dalam Studi Agama”.
Beberapa hal yang beliau sampaikan terkait dengan tema di atas adalah tentang era disrupsi, problem pendekatan monodisiplin, pola hubungan sains dan agama, dan integrasi-interkoneksi studi agama di Pascasarjana .

Prof. Amin Abdullah, menerangkan bahwa kata kunci untuk pemikiran akademik adalah saling menembus, keterujian intersubyektif, dan imaginasi strategis.
Dalam konteks integrasi itu diciptakan untuk menciptakan sikap independensi. Supaya tidak ada intervensi batasan pemikiran.
Prof Amin Abdullah, memaparkan ada 3 Generasi Perguruan Tinggi menurut penelitian global.
1. Skolastik, yakni eksistensi terhadap  kajian Program Studi lama. Seperti, syariah, dan dakwah.
2. Ilmu modern, monodisipliner, yakni kajian dari Program Studi yang satu dengan yang lain tidak pernah saling tegur sapa, dan terfokus pada kajian masing-masing.
3. Ilmu modern, interdisipliner, merupakan pmikiran dan kajian keilmuan yang menuntut pada area pemikiran trans interdisipliner atau multi disipliner.
Prof. Amin Abdullah, menjelaskan bahwa tujuan integrasi tidak hanya pada konsep pemikiran, melainkan akhlak. Sehingga pada prinsipnya adalah pada aspek siddiq, amanah, tablig, dan fatanah.
Konsep integrasi-interkoneksi sebagai bentuk responsif dalam mengembangkan kajian sains dan agama. Hal demikian dapat bertegur sapa untuk menciptakan kajian yang interdisipliner.
Aktualisasi pemahaman integrasi-interkoneksi tidak hanya sebatas pada ranah rasio, melainkan pada penguatan akhlak pada manusia itu sendiri.
Kita membutuhkan pergeseran paradigma yang awalnya pada tahap skolastik menuju pada arah yang interdisiplin. Karena tuntutan modern membuat nya menjadi sesuatu yang harus dikawinkan, baik kajian sosial, agama, dan sains.

Tinggalkan Balasan