The Power of Silaturrahim Khas PMII

0
45
Ketua Majelis Pembina Cabang PMII Kota Mataram, bersama kader PMII Kota Mataram

LOBAR, PWNUNTB.OR.ID | Silaturrahim ala PMII “Merajut asa yang hilang, dan menjemput masa yang gemilang!”
Lombok Barat, 24/02/19:

Islam adalah agama yang menganjurkan umatnya untuk senantiasa berbuat baik. Amalan dalam Islam tidak hanya berupa ibadah seperti shalat baik shalat wajib maupun shalat sunnah, puasa, zakat dan sebagainya. Melainkan juga tersenyum, dan menjalin tali silaturahim antar sesama muslim dan sesama manusia. Menjalin silaturahim adalah salah satu cara mewujudkan ukhuwah islamiyah, ukhuwah insaniyah, dan ukhuwah wathaniyah, dan dapat dilakukan dengan cara mengunjungi sanak keluarga, sahabat, guru, kiyai, alim ulama, dan saudara. Hikmah Silaturahim, selain membuat orang lain yang kita kunjungi merasa senang, silaturahim memiliki banyak keutamaan.

Silaturahim sebagai tanda-tanda seseorang beriman kepada Allah SWT. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah Ra, ia berkata: Rasulullah saw bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ, وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia memuliakan tamunya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia menyambung hubungan silaturahim”

Seperti yang dilakukan oleh kader-kader PMII Kota Mataram, di tengah situasi yang kian penuh dengan obsesi politik. Kian dari hari ke hari selalu memberikan efek terhadap perilaku dan paradigma masyarakat, ketika berbeda dalam pilihan politik. Fenomena seorang saudara, tidak lagi bertegur sapa dengan saudaranya, karena berbeda partai politik, seorang istri tak lagi harmonis dengan suaminya, lantaran beda dukungan politik, sahabat yang bubar, lantaran berbeda pandangan politik, dan banyak sekali fenomena yang membuat sekat partikuralistik.

Dengan demikian kader-kader PMII Kota Mataram, mengunjungi dan bersilaturahim kepada seniornya, selaku dosen UIN Mataram, dan sebagai Ketua Majelis Pembina Cabang PMII Kota Mataram yakni Dr. Saleh Ending, M.Ag., M.Pd.

Berkonsultasi dan berdiskusi tentang kondisi persatuan dan kesatuan di tengah panasnya politik di Indonesia, beliau (Dr. Saleh Ending), menyampaikan bahwa pengalamannya ditahun-tahun masa beliau menjadi aktivis pun kendati demikian, persoalan berbeda pandangan politik, perbedaan pandangan dalam kepentingan, dan banyak sekali perbedaan, namun itulah kehidupan. Berbeda itu indah, asalkan jangan saling membeda-bedakan antara yang satu dengan yang lain. Konteks secara nasional tentu, seseorang mengenal siapapun yang cocok menjadi panutan ummat, atau masyarakat Indonesia. Penting juga sebagai kader-kader PMII, sebagai generasi muda Indonesia, atau menjadi generasi muda NU, tetap membangun wawasan, literasi, dan berdamai dengan kemajuan. Itu penting, karena nuansa politik, akan membenturkan segala aspek pengetahuan siapapun, soal kesejahteraan, ekonomi, sosial, budaya, dan aspek lainnya. Pasti dibenturkan dengan namanya politik.

Kader PMII, baik di Kota Mataram, ataupun secara seluruh Indonesia, harus peka terhadap persoalan kekinian, dan bukan hanya terhenti sampai disitu, akan tetapi menawarkan gagasan untuk memecahkan persoalan-persoalan yang terjadi.

Diskusi, silaturrahim, membaca, dan menulis itu harus terus dilakukan. Karena itulah khas kita sebagai aktivis, dan kader pergerakan. Tidak boleh kader PMII itu anti terhadap perbedaan, karena berbeda itu lazim, dan itu rahmat dari Allah SWT.

Sedikit celetukan dari beliau adalah
“Dulu kita ketika ada event pemilihan apapun, semua orang kalau berbeda argumentasi itu, saling mau pukul!, Kita yang memahami itu, hal biasa dan kita ketawa-ketawa saja!” Imbuhnya.

Itu boleh untuk melatih kekuatan argumentasi dan mental kita sebagai kader. Kader PMII tidak boleh lemah, harus tegar. Meskipun ditengah hempasan gelombang samudera yang tinggi sekalipun. Bukankah begitu? Tanya beliau. Semua mengangguk dan tertawa.

Banyak sekali yang diberikan dan diajarkan, terkait tentang memahami dan menghadapi segala perbedaan ataupun perdebatan.

Esensi terpenting juga dari silaturrahim ini adalah akan dipanjangkan umurnya dan diluaskan rezekinya. Sebagaimana hadist Rasullullah SAW yang berbunyi:

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barangsiapa yang senang diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung hubungan sulaturahim.”

Kegiatan silaturrahim tersebut juga dirangkaikan dengan sholat Magrib berjamaah, dan makan bersama.

Hal demikian harus tetap dilakukan oleh kader-kader PMII, supaya sanad keilmuan terus tersambung. Pemikiran semakin dapat diasah guna meningkatkan kemampuan pengetahuan yang lebih luas.

Salam pergerakan!

Tinggalkan Balasan